Sejarah: 30 Tahun Ada, Festival Lembah Baliem Baru Didatangi Menteri

Sejarah: 30 Tahun Ada, Festival Lembah Baliem Baru Didatangi Menteri
Festival budaya tertua di Papua, Festival Lembah Baliem telah ada sejak 30 tahun lalu. genpi.co)

Kepri, Forumpublik.com - Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.

Seiring berjalannya waktu, Festival Lembah Baliem tidak hanya menjadi pertunjukan perang antarsuku, melainkan juga pertunjukan budaya dan seni masyarakat Pegunungan Tengah, Papua. Tentunya, atraksi perang antarsuku juga menjadi bagian paling penting dan paling dinanti-nantikan.

Festival Lembah Baliem berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus bertepatan dengan bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang.

Bupati Jayawijaya John Richard Banua menyampaikan terimakasih kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise karena menghadiri Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB).

"Selama 30 tahun kita menanti-nantikan tidak pernah ada menteri yang mau buka kegiatan ini. Saya atas nama pemerintah dan masyarakat menyampaikan terimakasih kepada ibu menteri karena mau hadir bersama-sama dengan kita," ujar Banua.

Sejarah: 30 Tahun Ada, Festival Lembah Baliem Baru Didatangi Menteri
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise saat Membuka Festival Lembah Baliem yang ke-30 Tahun 2019, Rabu (07/08/19). (indotimur.com)

Menteri Yohana Yembise membuka FBLB 2019 pada Rabu (07/08/19). Festival yang ke-30 tahun penyelenggaraan ini akan berlangsung hingga 10 Agustus.

"Kami memberikan apresiasi yang besar karena festival lembah Baliem tetap eksis dalam daftar Top 100 calender of event pariwisata. Untuk masuk dalam daftar itu harus memenuhi penilaian kriteria 3C," ujar Yohana dalam sambutannya seperti dilansir dari Cnn.

Yohana meminta pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk terus mempertahankan kualitas penyelenggaraan FBLB.

"Saya juga menitip perempuan-perempuan di Jayawijaya agar diberdayakan dalam event ini. Demikian pula dengan anak-anak agar ditanamkan nilai-nilai budaya sebagai penerus generasi masa depan," tambah Yohana.

Bupati Banua menjelaskan bahwa FBLB merupakan festival tertua di Papua. Festival ini berawal dari keinginan pemerintah untuk terus melestarikan tradisi dan budaya masyarakat yang tinggal di Jayawijaya.

"Tradisi perang di masyarakat Papua tidak dapat dihilangkan karena disebabkan berbagai masalah sosial. Lewat festival ini, tradisi itu dilestarikan dengan cara yang berbeda," ujar Banua.

FBLB yang didatangi wisatawan domestik dan luar negeri mengambil tema 'warisan budaya sebagai jejak peradaban', diikuti 40 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya.

Pembukaan festival diisi dengan tarian kolosal pelajar SMA yang mengekspresikan tradisi dan budaya suku Ubula yang mendiami Lembah Baliem.

Acara juga diisi dengan pemecahan rekor MURI noken (tas tradisional orang Papua) terpanjang yakni sepanjang 30 meter.

Usai pembukaan, 7 distrik menampilkan atraksi perang-perangan, karapan babi dan bakar batu. Di samping itu ada pula kampung festival, kampus festival dan pasar festival.

Ribuan orang menghadiri lapangan terbuka di Distrik Welesi sebagai pusat penyelenggaraan festival. Berbagai atraksi budaya menarik ratusan wisatawan berburu foto. Berbagai produk budaya dan kerajinan tangan juga diperdagangkan oleh warga lokal.

Lihat juga:
Jokowi Dorong Geopark Kaldera Toba Masuk Jaringan Global UNESCO
Hari Persahabatan Internasional, Berteman Cegah Kekerasan
Berikut 6 Kawah Berpemandangan Menarik bak Lukisan di Indonesia
Ratu Inggris Sedang Liburan, Buckingham Dibuka untuk Turis
Kemenpar Terus Pantau Ekosistem Pariwisata Tangkuban Parahu


(Cnn/Red)

loading...

0 komentar:

Post a comment