'Krisis Air' Pengamat: Pemda Perlu Kerja Keras Sediakan Air Bersih di Bintan

'Krisis Air' Pengamat: Pemda Perlu Kerja Keras Sediakan Air Bersih di Bintan
Waduk Gesek, Bintan. Pengamat lingkungan Kepulauan Riau Kherzuli mengatakan, dibutuhkan manajemen pengelolaan air yang baik untuk kebutuhan masyarakat terpenuhi meski saat cuaca kering. (Foto: Asikk1/Kominfo Kepriprov)

Bintan (Kepri) - Forumpublik.com | Pemerintah daerah perlu bekerja keras untuk menyediakan air bersih di Pulau Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan), kata pengamat lingkungan, Kherjuli.

"Kawasan yang dapat dijadikan sebagai sumber air baku di Kabupaten Bintan cukup banyak. Ini seharusnya diolah dengan manajemen yang baik sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi meski saat cuaca kering," ujarnya di Tanjungpinang, Selasa (10/3/20).

Kherjuli yang juga Direktur Air, Lingkungan dan Manusia mengatakan Pulau Bintan mengalami krisis air, meski pada saat curah hujan tinggi. Hal itu disebabkan manajemen pengelolaan air untuk jangka pendek masih buruk sehingga memang perlu dibenahi.

"Membenahi krisis air ini tidak dapat dengan ucapan, melainkan aksi, karena ini persoalan kebutuhan yang tidak dapat ditunda," ucapnya.

Untuk sektor domestik, menurut dia krisis air bersih akan terus berlarut, dan dirasakan penduduk di Pulau Bintan selama beberapa bulan dalam setiap tahun jika potensi sumber daya air tidak dikelola secara maksimal, dan cepat.

"Pada saat intensitas curah hujan tinggi, maupun di musim kemarau, kondisi Pulau Bintan tetap potensial krisis air karena wadah penampung air (waduk) 'existing' belum mampu menampung air larian dalam jumlah besar," katanya.

Kondisi itu, lanjutnya diperburuk dengan Water Treatment Proses (WTP) yang terbangun, namun jumlahnya masih dibawah jumlah kebutuhan saat ini, yang diperkirakan 350 liter/Det - 400 liter/detik. Existing saat ini baru 250 liter/detik.

Data PDAM Tirta Kepri menunjukkan bahwa baru 41 persen jumlah penduduk terlayani. Dengan pemakaian rata-rata masih dibawah 17 m3/KK/bulan.

Ia mengemukakan kajian potensi sumber daya air di Pulau Bintan telah dilakukan berbagai pihak sejak tahun 80-an. Dari hasil kajiannya, menyimpulkan bahwa potensi Sumber Daya Air di Pulau Bintan, khususnya air permukaan, sangat potensial dan berlimpah.

Untuk menutupi neraca air di Pulau Bintan yang defisit, akibat ketersediaan berada dibawah kebutuhan, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun non domestik lainnya.

Sementara untuk jangka pendek, kata dia pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Kementerian PU telah menyiapkan Waduk Kawal.

"Kami apresiasi itu. Walau masih jauh dan terkesan lambat. Karena masalah yang kita hadapi saat ini, bukan lagi persoalan air baku saja, tetapi lebih pada air bersih yang dapat dikonsumsi," ucapnya.

Ia mengemukakan permasalahan yang dihadapi sekarang bagaimana percepatan penyediaan air minum perkotaan dapat terwujud sehingga PDAM mampu memberikan pelayanan dengan cakupan dan kualitas yang baik.

Baca juga:

Pemerintah Provinsi Kepri baru-baru ini mengusulkan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Regional Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Pelaksana Tugas Gubernur Kepri Isdianto, di yang dihubungi di Bintan, Senin, mengatakan, usulan tersebut diprioritaskan untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur dasar terutama kualitas layanan air bersih.

SPAM Regional Bintan sebagai upaya menyiapkan kualitas air yang baik," katanya.

Isdianto mengatakan kebutuhan air baku terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Selain itu, air baku juga dibutuhkan sebagai implementasi dari pelayanan dasar yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan industri, termasuk di Kawasan Ekonomi Khusus di Galang Batang, Bintan.

“Pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang juga membutuhkan air yang cukup besar,” tuturnya.

Lihat juga:

(Asikk1/Kominfo Kepriprov)
Editor: Manto

loading...

0 komentar:

Post a comment