Pedagang Rujak di Meulaboh Hilang Cita Rasa Dampak Rumbia di Aceh Barat Tak Lagi Berbuah

Manto
6 July 2026 | July 06, 2026 WIB Last Updated 2026-07-06T14:36:08Z
Pedagang Rujak Dimeulaboh Hilang Cita Rasa Dampak Rumbia Di Aceh Barat Tak Lagi Berbuah
Pohon rumbia yang kerap disebut juga sebagai pohon sagu atau salak hutan salah satu milik petani di Aceh Barat, yang saat ini sulit untuk berubah. (Foto: M Jamil/forumpublik.com)

Meulaboh - Forumpublik.com | Kelangkaan buah rumbia akhir-akhir ini sangat berdampak pada para pedagang rujak dengan hilangnya cita rasa khusus kuliner tradisional, di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh.

Sebagai informasi, Kabupaten Aceh Barat dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah pertanian penghasil buah rumbia dalam jumlah besar, sehingga menjadi salah satu pemasok pada Banda Aceh dan wilayah lainnya yang dipasarkan oleh para pedagang buah.

Namun, dalam kurun waktu sekitar 17 tahun terakhir ini, tanaman rumbia dari wilayah ini tidak lagi berbuah. Sehingga mengakibatkan dampak penurunan penghasilan pada para pedagang rujak khususnya. 

Dengan tidak berbuahnya buah rumbia ini, meninggalkan jejak kejayaan yang kini hanya tersisa dalam cerita masyarakat.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan buah lokal, tetapi juga mengubah cita rasa kuliner rujak tradisional di Meulaboh. Sebab, buah rumbia sebagai salah satu bahan utama, sehingga para pedagang kini harus mencari alternatif buah lain untuk tetap mempertahankan cita rasa dagangannya.


Evi, salah satu pedagang rujak di Meulaboh mengatakan, perubahan bahan baku tersebut turut memengaruhi rasa dan minat sebagian pelanggan yang sebelumnya mengenal rujak Meulaboh dengan cita rasa khas buah rumbia yang segar dan sedikit asam. Meski demikian, para pedagang tetap berupaya mempertahankan usaha mereka di tengah keterbatasan bahan lokal.

"Selama buah rumbia tak ada lagi, kami saat bikin rujak terpaksa campur buah sawo dan juga lainnya. Namun tak sesedap seperti dulu masih menggunakan buah rumbia bahan utama untuk cita rasanya," ucap Evi, salah satu pedagang rujak di Meulaboh, Senin (6/7/2026).
 
Pedagang Rujak Dimeulaboh Hilang Cita Rasa Dampak Rumbia Di Aceh Barat Tak Lagi Berbuah
Buah rumbia. (Foto: Istimewa) 

Terpisah, Adi masyarakat pedesaan warga Dusun Monkulu, Gampong Ladang, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, menyampaikan memanfaatkan tanaman rumbia yang tersisa, terutama bagian batang dan daun.

Ia mengatakan, bahwa batang rumbia yang telah tinggi kerap disebut juga sebagai pohon sagu atau salak hutan, batangnya masih memiliki nilai ekonomi.


Menurutnya, batang tersebut dapat diolah menjadi bahan pangan tambahan serta dimanfaatkan sebagai pakan ternak, khususnya ayam dan itik. Proses pengolahannya dilakukan secara sederhana oleh masyarakat setempat.

"Kami biasa membeli satu batang sagu seharga Rp70.000. Setelah dipotong-potong sekitar satu meter, kami jual kembali untuk pakan ayam dan itik di Kecamatan Samatiga, untuk mencari keuntungan sedikit," ucap Adi pada forumpublik.com.

Ia menjelaskan, selain batangnya, daun rumbia juga masih memiliki nilai guna.

"Daun tersebut dijahit menjadi bahan atap tradisional yang hingga kini masih digunakan di beberapa wilayah pedesaan. Harga daun atap rumbia saat ini berkisar Rp6.000 per gagang, menjadi salah satu sumber pendapatan alternatif bagi warga," ungkapnya.

Adi menambahkan, meski buah rumbia sudah lama tidak lagi ditemukan, masyarakat masih berharap adanya perhatian terhadap potensi tanaman ini, baik dari sisi pelestarian maupun pengembangan kembali manfaat ekonominya.

"Walaupun buah rumbia tidak ada lagi, batang dan daunnya masih bisa menjadi sumber ekonomi," ujarnya.

Dengan hilangnya buah rumbia di Aceh Barat tidak hanya menyisakan dampak ekonomi, tetapi juga mengikis salah satu identitas kuliner lokal yang dahulu cukup dikenal masyarakat. Hingga kini, belum ada kepastian apakah tanaman tersebut dapat kembali berbuah seperti masa sebelumnya.

Sehingga para pedagang rujak, kuliner tradisional dan para petani berharap pada pemerintah adanya upaya untuk mengatasi hal tersebut.

Untuk diketahui, pohon rumbia hanya berbuah sekali dalam seumur hidupnya. Setelah mencapai usia sekitar 6 tahun, tanaman akan menghasilkan buah di pucuk dahan, dan biasanya pohon tersebut akan mati secara alami pada usia 10 tahun setelah proses pembuahan selesai.

Mengutip channel youtube 7 adventures, kelangkaan buah rumbia akhir-akhir ini tidak terlepas dari siklus biologis alaminya yang unik. Pohon rumbia atau Metroxylon sagu memang dirancang untuk tumbuh, berbuah satu kali, lalu mati.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pedagang Rujak di Meulaboh Hilang Cita Rasa Dampak Rumbia di Aceh Barat Tak Lagi Berbuah

Trending Now