Berikut Alasan Vaksin AstraZeneca Jarak Dua Dosis Hingga 12 Minggu

berikut-alasan-vaksin-astrazeneca-jarak-dua-dosis-hingga-12-minggu
Ilustrasi. Vaksin COVID-19 AstraZeneca. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Forumpublik.com | Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi pernah mengatakan, untuk rentang waktu atau interval penyuntikan vaksin COVID-19 AstraZeneca adalah selama 8-12 minggu.

Dengan kata lain, dua dosis vaksin AstraZeneca yang disuntikkan dengan jarak minimal dua bulan.

"Untuk AstraZeneca dua bulan. Rentangnya 8 minggu sampai 12 minggu," ujar Nadia melansir dari Kompas.

Melihat hal ini, rentang waktu untuk AstraZeneca ini berbeda dengan vaksin Sinovac. Vaksinasi COVID-19 yang menggunakan Sinovac memiliki rentang waktu lebih pendek, yakni selama 14 - 28 hari.

Untuk saat ini, Indonesia telah mendistribusikan berbagai jenis vaksin COVID-19, di antaranya seperti jenis Sinovac, Sinopharm, Moderna, dan AstraZeneca.

Masing-masing jenis vaksin tersebut memiliki sejumlah perbedaan, termasuk interval pemberian dosis pertama dan dosis kedua.

Untuk vaksin Moderna dan Pfizer, memiliki jarak pemberian berkisar 21-28 hari saja.

Baca juga: Relawan Ganjar Pranowo dari 34 Provinsi Deklarasi Dukung Maju Pilpres 2024

Dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinolog, Dirga Sakti Rambe menjelaskan untuk alasan vaksin AstraZeneca memiliki jarak atau interval yang cukup panjang antara dosis pertama dan kedua, hingga diperlukan waktu 4-12 minggu untuk penyuntikan dosis kedua setelah penyuntikan pertama.

Menurutnya, jarak ini ditetapkan setelah dilakukan uji klinis berulang kali pada manusia.

"Jarak ini didapat dari penelitian, jadi saat uji klinis kita uji coba," kata Dirga saat melakukan siaran live bersama Kementerian Kesehatan, Rabu (25/8/2021).

Saat uji klinis dilakukan, penyuntikan dosis kedua dilakukan dalam beberapa tahap. Mulai dari siklus 14 hari, 21 hari, 28 hari hingga tiga bulan.

Hasilnya ditemukan bahwa antibodi terbaik yang terbentuk dari vaksin AstraZeneca didapat dari penyuntikan 12 minggu atau tiga bulan.

"Setelah 12 minggu atau tiga bulan itu antibodi sangat bagus. Makanya, inilah alasan mengapa AZ ini bisa sampai 12 minggu," kata Dirga.

Dalam kesempatan yang sama, Dirga juga mengingakan agar masyarakat tak sembarangan mengonsumsi obat sebelum melakukan vaksinasi COVID-19. Apa pun jenis vaksinnya tak dianjurkan mengonsumsi obat selain obat-obatan rutin sebelum vaksin.

"Kalau obat rutin, misal obat diabetes harus tetap diminum. Tapi kalau obat demam misal paracetamol jangan diminum sebelum vaksin," katanya melansir dari CNNIndonesia.

Dirga juga menjelaskan alasan seseorang masih bisa terpapar COVID-19 setelah vaksinasi dilakukan. Hal ini bisa terjadi, salahnya satunya yakni sebelum vaksin tanpa sadar orang tersebut telah terpapar COVID-19.

Tak ada bukti ilmiah manapun yang menyebut bahwa vaksin COVID-19 bisa menyebabkan seseorang positif COVID-19.

"Jadi jangan salah kaprah, yang terpapar COVID-19 setelah vaksin itu dia terkena COVID-19 sebelum vaksin, tapi baru muncul reaksi beberapa hari kemudian. Ini bisa terjadi," katanya.

Lihat juga:
Pemulihan Ekonomi, Enam Fokus Kebijakan APBN 2022
Berikut Aturan Baru PPKM Level 4, Jokowi Izinkan Usaha Kecil Dibuka
OJK Rancang Strategi Mekanisme Penyelesaian Sengketa Jasa Keuangan
Permintaan Pengusaha Jika PPKM Level 4 Diperpanjang
Kabareskrim Selidiki Tambang Di Kalsel Yang Nekat Beroperasi Meski Sudah Disegel

Editor: Firmanto


0 comments:

Post a Comment