Pengamat: Pemilu 2024 Berbasis Digital, Pilihan Bagi Negara

Pengamat: Pemilu 2024 Berbasis Digital, Pilihan Bagi Negara
Ilustrasi. Bismar Arianto, dorong Pemilu 2024 berbasis digital untuk diterapkan dengan sistem yang kuat dan terintegrasi. (Foto: Istimewa)

TANJUNGPINANG (KEPRI) - Forumpublik.com | Bismar Arianto, Pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dorong Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 berbasis digital untuk diterapkan dengan sistem yang kuat dan terintegrasi. Hal dapat mengurangi energi penyelenggara pesta demokrasi tersebut.

Bismar mengatakan, e-voting dalam Pemilu bukan sesuatu yang tabu diselenggarakan di Indonesia, mengingat banyak negara yang sukses melaksanakannya. Apalagi hampir dua tahun ini, sejak pandemi COVID-19, masyarakat Indonesia semakin dekat dengan teknologi informasi.

"Proses pemilu yang diselenggarakan secara digital atau elektronik sebaiknya diterapkan dengan sistem yang kuat dsn terintegrasi sehingga menghasilkan pemilu yang berkualitas, akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Bismar, yang juga mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMRAH, di Tanjungpinang, Rabu (15/10/2021).

Sistem digitalisasi mempermudah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama pandemi tanpa melakukan transaksi secara manual.

Karena itu, menurut dia masyarakat sudah terbiasa dan melek terhadap kemajuan teknologi informasi, yang dapat dimanfaatkan pemerintah dan penyelenggara pemilu untuk meningkatkan kapasitas pemilu melalui digitalisasi pemilu.

"Digitalisasi pemilu bukan ide baru, namun belum dilaksanakan. Mungkin karena berbagai pertimbangan. Tetapi sekarang saya pikir perlu dilaksanakan dengan pertimbangan seperti protokol kesehatan, akurasi perolehan suara, antisipasi penyelenggara pemilu kelelahan dalam pelaksanaan Pemilu 2024 serentak, dan mengurangi biaya pemilu," ujarnya.

Baca juga: Dimasanders Oknum Dokter Cabul, Jaksa Tuntut Hanya Selama 14 Bulan

Bismar mengemukakan digitalisasi pemilu merupakan pilihan bagi negara, yang ingin pelaksanan pemilu tidak menguras energi, dengan hasil yang maksimal. Sistem ini hanya perlu dibangun dengan kuat dan mudah digunakan masyarakat.

"Tentu orang-orang yang ahli IT, yang mampu membangun sistem ini agar tidak bisa diretas oleh pihak manapun," ucapnya.

Pilihan lainnya yang diusulkan Bismar yakni sistem pemilu manual, namun tidak diselenggarakan secara serentak antara pemilu legislatif dengan pemilu eksekutif.

Pemilu legislatif semestinya dilaksanakan lebih dahulu sehingga menjadi tolak ukur dalam penyelengaraan pemilu eksekutif tingkat pusat hingga daerah.

"Syarat mengusung pasangan calon dalam pilkada itu 'kan harus berdasarkan jumlah kursi atau jumlah suara yang diperoleh pada pemilu legislatif. Jadi, yang relevan digunakan itu, bukan hasil pemilu 5 tahun sebelumnya karena sudah kadaluwarsa," katanya.

Pada pemilu serentak 2019, kata dia hasil pemilu 5 tahun sebelum dijadikan tolak ukur apakah koalisi partai pengusung kandidat tertentu pada pemilu eksekutif memenuhi syarat atau tidak.

Jika pada Pemilu 2014 tidak memenuhi perolehan suara 20 persen atau kursi di legislatif 25 persen, maka tidak dapat mengusung kandidat pilkada.

"Tentu itu tidak relevan dengan kondisi terkini," ucapnya.

Ia menuturkan pemisahan pemilu legislatif dan pemilu eksekutif tahun 2024 juga untuk mengurangi energi penyelenggara pemilu, jangan sampai banyak penyelenggara pemilu adhock sakit dan meninggal dunia karena kelelahan seperti peristiwa tahun 2019 terulang lagi.

"Memang membutuhkan anggaran yang besar bila pemilu dilaksanakan secara terpisah, tetapi keselamatan penyelenggara pemilu juga perlu diperhatikan," katanya.

Lihat juga:
Komunitas Harley Davidson Berbagi 1.945 Paket Sembako di Hari Kemerdekaan
Penerapan PPKM Darurat, Kapolda Kepri Salurkan Bantuan Sosial
Maret 2021, Kepri Alami Kenaikan Jumlah Penduduk Miskin Naik 6,12 Persen
BPS: Juni 2021, Ekspor Kepri Naik 2,81 Persen
Ansar: Pemprov Kepri Bakal Evaluasi Pelaksanaan Tracing dan Testing

Editor: Rianto

0 komentar:

Post a Comment