Rekam Jejak Calon Kapolri Mantan Ajudan Jokowi Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo

Rekam Jejak Calon Kapolri Mantan Ajudan Jokowi Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo
Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo (tengah) didampingi Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejaksaan Agung Fadil Zumhana (kedua kiri) beserta jajaran menyampaikan hasil gelar perkara terkait kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (17/9/2020). .ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/nz.

JAKARTA - Forumpublik.com | Komjen. Pol. Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., yang lahir di Ambon, Maluku, 5 Mei 1969 dengan umur 51 tahun adalah seorang polisi Indonesia yang saat ini, dia menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri sejak tanggal 6 Desember 2019.

Dalam kasus suap surat jalan Djoko Tjandra, nama Listyo Sigit disebut oleh Irjen Napoleon Bonaparte saat sidang, serta menyeret Brigjen Prasetijo Utomo, yang juga lulusan Akpol 1991, sebagai tersangka.

Listyo merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1991. Ia merupakan lulusan S-2 di Universitas Indonesia. Listyo membuat tesis tentang penanganan konflik etnis di Kalijodo.

Listyo pernah beberapa kali menduduki jabatan di daerah Jawa Tengah. Tercatat, Listyo pernah menjadi Kapolres Pati. Setelah itu, dia menduduki posisi Wakapoltabes Semarang, dan pernah menjadi Kapolres Solo.

Pada tahun 2012, Listyo dipindahtugaskan ke Jakarta untuk menjabat sebagai Asubdit II Dit Tipdum Bareskrim Polri. Sejak bulan Mei 2013, dirinya bertugas di Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara.

Listyo tercatat pernah menduduki sejumlah jabatan penting. Dia adalah Ajudan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Ia kemudian menjabat Kepala Kepolisian Daerah Banten, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan terakhir sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri.

Kasus-kasus besar yang pernah dibongkar sebagai Kabareskrim Polri adalah penangkapan buron penyiram air keras pada Novel Baswedan, Maria Lumowa, dan Djoko Tjandra. Akan tetapi, terdapat beberapa kejanggalan dalam kasus Novel Baswedan dan Djoko Tjandra ketika sejumlah perwira aktif Polri ikut menjadi tersangka dalam aksi kriminal tersebut.

Bareskrim Polri yang mengambil alih kasus dari Polda Metro Jaya untuk penetapan tersangka Habib Rizieq, terkait kerumunan di masa pandemi yang dikawal aparat dan tidak mengizinkan hasil tes swab diungkap ke publik atas dasar privasi, juga menjadi sorotan luas diakibatkan tragedi terbunuhnya 6 anggota Front Pembela Islam (FPI) di tengah-tengah proses pemeriksaan Polda terhadap saksi kasus kerumunan.

Komjen Pol Listyo sendiri menjadi calon tunggal Kapolri yang dipilih Presiden Jokowi. Namanya tercantum di dalam Surat Presiden yang dibawa oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno ke DPR RI, Rabu (13/1/2021) kemarin yang akan menggantikan Idham Azis dikarenakan pensiun awal tahun ini.

Setelah ini Listyo tinggal menjalankan fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan di DPR RI. Ketua DPR Puan Maharani mengatakan ujian akan dilaksanakan oleh Komisi III beberapa waktu mendatang. Setelahnya, nama Listyo akan dibawa ke rapat paripurna untuk mendapat persetujuan dari seluruh anggota. Semua proses ini akan ditempuh selama 20 hari terhitung sejak surpres diterima.

“DPR akan menjalankan proses tersebut sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku dan kita akan dapat segera mengetahui apakah Kapolri yang ditunjuk Presiden mendapatkan persetujuan dari DPR,” kata Puan, Rabu.

Pengamat kepolisian dari Institut for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mengatakan Listyo telah dekat dengan Jokowi sejak lama. Ia adalah Kapolresta Surakarta/Solo sejak April 2011 ketika Presiden masih menjabat Wali Kota Solo. Saat itu Listyo berpangkat komisaris besar (Kombes).

Saat keduanya menjabat, terjadi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Solo, 25 September 2011.

Ketika menjabat Presiden pada 2014 lalu, Jokowi mempercayakan Listyo sebagai ajudannya.

Baca juga: Dorong UKM Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji, Presiden Minta Sektor Konstruksi Ber Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha

Rekam Jejak

“Bahwa Listyo punya kedekatan dengan Presiden, semua orang tahu. Tapi apa yang mendasari Listyo dipilih untuk diusulkan Presiden, itu belum tersampaikan ke publik,” kata Bambang kepada reporter Tirto.id, Kamis (14/1/2021).

Menurut Bambang, pertimbangan Jokowi memilih Listyo adalah ia memiliki kemampuan dan rekaman jejak yang cukup baik.

Listyo lulus dari Akademi Kepolisian tahun 1991. Sementara pendidikan terakhirnya adalah S2 Kajian Ilmu Kepolisian di Universitas Indonesia (UI).

Ia lulus pada 2005 dengan tesis berjudul Efektivitas Mediasi oleh Kepolisian dalam Penanganan Konflik Etnis di Kalijodo, Jakarta. Supervisornya kala itu adalah Adrianus Meliala, kini anggota Ombudsman RI.

Dua tahun setelah lulus Akpol, Listyo berkarier sebagai Kepala Unit II Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Tangerang dengan pangkat inspektur dua.

Saat menjabat Kapolsek Duren Sawit, Jakarta Timur Listyo berkontribusi membantu tim Gegana Polda Metro Jaya memburu pengebom Plaza Atrium, Jakarta Pusat, bernama Dani. Bom meledak pada 1 Agustus 2001. Listyo menjabat sejak 1999, setahun setelah reformasi bergulir.

Jabatan berikutnya lagi-lagi kapolsek. Kini di Tambora, Jakarta Barat, dengan pangkat komisaris pada 2003. Dua tahun kemudian barulah Listyo punya jabatan baru: Kepala Satuan Intel dan Keamanan Polres Jakarta Barat.

Saat berpangkat ajun komisaris besar antara 2006 sampai awal 2009, ia bertugas di berbagai jabatan administratif di Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.

Kariernya yang tampak stagnan itu perlahan berubah haluan sejak Oktober 2009, ketika dipilih sebagai Kapolres Pati. Setahun kemudian dia menjabat Kapolres Sukoharjo, dan pada tahun yang sama dimutasi menjadi Wakapolres Kota Semarang.

Setelah dari Semarang itulah dia 'berjodoh' dengan Jokowi. Hanya menjabat setahun di Solo, Listyo pindah bertugas ke Jakarta, kali ini ke 'kantor pusat', menjabat Asubdit II Dit Tipdum Bareskrim Polri. Di sini ia bertugas selama dua tahun sebelum bertugas sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara, Mei 2013.

Setelah Jokowi terpilih pada 2014, Listyo ditarik lagi ke Jakarta dan menjadi ajudan sampai 2016. Purna tugas, dia diangkat sebagai Kapolda Banten dengan pangkat brigadir jenderal pada 2016.

Saat inilah dia mendapatkan bintang pertamanya. Di angkatannya, dia adalah perwira pertama yang meraih pangkat jenderal.

Agustus 2018 Listyo menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri dan kembali mendapatkan bintang. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Badan Reserse Kriminal sejak 6 Desember 2019, menggantikan Idham Azis yang kelak jadi Kapolri.

Dia adalah pejabat termuda di posisi tersebut dalam satu dekade terakhir. Pada jabatannya yang terakhir Listyo menangkap buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra atau Djoko Tjandra.

Listyo memiliki harta lebih dari Rp8 miliar, tepatnya Rp8.314.735.000, menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diserahkannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Disebutkan bahwa harta tersebut termasuk tanah dan bangunan dengan nominal sebesar Rp6,15 miliar yang tersebar di tiga daerah di mana ia pernah menjabat: Kota Semarang, Kota Tangerang, dan DKI Jakarta.

Selain itu tercatat pula kekayaan berupa alat transportasi dan mesin sebesar Rp320 juta; harta bergerak lainnya Rp975 juta; surat berharga Rp896 juta; dan harta lainnya Rp869 juta. Listyo tercatat tidak memiliki utang.

Lihat juga:
Agresifitas China Karena Fragmentasi Sikap Indonesia
Berikut 15 Kondisi Orang yang Tak Bisa Disuntik Vaksin COVID-19 Sinovac
Ketahui 4 Kelompok Orang Yang Tak Dapat di Suntik Vaksin COVID-19
Ketum PERISAI: Calon Tunggal Kapolri Komjen Pol Listyo Hak Prerogatif Presiden Jokowi
Menperin: Vaksinasi Kunci Pendorong Bidik Pertumbuhan Industri 4 Persen

Editor: Manto


loading...

0 komentar:

Post a comment